Blogger Widgets

Senin, 04 Mei 2015

Coretan Kecil "Ajaran Buddha Dharma tentang Etika"



Ajaran Buddha Dharma tentang Etika

Rentetan awal  ketika kita bicara srada, srada agama Hindu dan srada agama Buddha hampir sama. Maksudnya, ketika kita belajar agama, itu bicara tentang kerangka iman (keyakinannya). Srada dalam agama hindu berbicara tentang Tattwa, Sila, dan Upacara. Begitu juga dengan Srada dalam agama Buddha berbicara tentang Tattwa, Sila, dan Upacara (Bhakti). Setiap bangunan agama paling tidak bicara tentang keimanan, tentang akhlak, sila (susila), tentang kemasyarakatan, dan juga ibadah. Ibadah sendiri dapat digolongkan dalam dua macam, yakni ibadah muamalat dan ibadah yang langsung kepada Tuhan. Hal yang paling penting dalam konsep agama-agama ketika bicara tentang sila, itu bicara mengatur perilaku baik dan buruk.

Dalam agama Buddha, kita tahu rukun iman agama Buddha ada lima,
1)      Kepercayaan kepada Sang Hyang Adi Buddha (untuk Buddha Dharma)
2)      Kepercayaan kepada Bodhisatwa dan Para Buddha
3)      Kepercayaan kepada kitab suci
4)      Kepercayaan kepada hukum-hukum kesunyataan, meliputi Cattari Ariya Saccani, Kamma dan Punabbhava, Tilakkhana, dan Paticcasamuppada.
5)      Nibbana

Dalam agama Buddha, Sila itu berangkat dari pemahaman terhadap Karma dan juga pencapaian tujuan akhir manusia (Nibbana), mirip dengan agama Hindu yakni Karmaphala dan Moksa.  Hanya nanti yang membedakan bagaimana cara memperolehnya atau cara melaksanakan dan mencapai tujuan akhir. Kita tahu dalam agama Buddha itu ada keimanan atau Kredo (dalam istilah Islamnya disebut Syahadat), “Aku berlindung kepada Buddha, Aku berlindung kepada Dhamma, Aku berlindung kepada Sangha”.

Pada saat “aku berlindung kepada Buddha”, pengertian tentang Buddha yang sudah kita ketahui sebelumnya, bahwa Buddha istilah Kebuddhaan dalam proses pencapaiannya dikategorikan dalam 3 hal:
1)      Samma Sambuddha, dicapai dengan usaha sendiri, tanpa dibantu oleh orang lain, dan dia juga bisa mengajarkannya kepada orang lain, seperti Sidharta Gautama.
2)      Paceka Buddha,yaitu Kebuddhaan yang dicapai dengan usaha sendiri tetapi tidak bisa diajarkan kepada orang lain, dalam artian dia tidak punya kemampuan.
3)       Savaka Buddha,dicapai melalui perantara guru, dia juga bisa mengajarkan kepada orang lain. tapi disini dia berusaha sendiri dalam memaknai kebebasan mutlak tetapi ada jalannya, yaitu melelui sang guru.

Jadi ketika kita berbicara tentang sila, kita bicara bagaimana mencapai Kebuddhaan, pencerahan, atau penerangan sempurna. Kerena penerangan sempurna inilah capaian terakhir dari yang menjadi tujuan hidup umat Buddha (Nibbana).  Istilah untuk capaian umat Buddha yang melakukan sila bisa savaka, paceka, dan samma Buddha. Hal yang dilakukan sebagai upaya pencapaian kebuddhaan ini yaitu melalui Dhamma yang terbagi dalam 3 tingkatan:
1)      Pariyati Dhamma, dilakukakan dengan mempelajari Tipitaka/Tripitaka (Vinaya, Suta, dan Abidhamma).
2)      Patipati Dhamma,dilakukan dengan mempraktekkan Ariya Attangika Magga/ 8 jalan utama (Sila, Samadhi,dan Panna).
3)      Pativeda Dhamma, dilakukan dengan menghayati Magga, Phala, Nibbana.
Sila dalam agama Buddha itu menjadi jalan praktis untuk mencapai Nibbana, tetapi dalam agama Buddha kerangkanya harus selalu berfikir, berkata, dan berbuat, Jadi tidak ada yang berhenti dalam satu ranah. Ketiganya harus sama-sama dilakukan (, tidak hanya satu saja. Berfikir baik saja tanpa berkata dan berbuat tidak akan mendapat pahala.
NB: Pertemuan minggu ke 7, Perbandingan Agama UIN Jakarta. @ 24 April 2015
kalo ada yang salah mohon dimaklumi, masih dalam proses belajar juga... :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar