Ajaran
Buddha Dharma tentang Etika
Rentetan
awal ketika kita bicara srada, srada
agama Hindu dan srada agama Buddha hampir sama. Maksudnya, ketika kita belajar
agama, itu bicara tentang kerangka iman (keyakinannya). Srada dalam agama hindu
berbicara tentang Tattwa, Sila, dan Upacara. Begitu juga dengan Srada dalam
agama Buddha berbicara tentang Tattwa, Sila, dan Upacara (Bhakti). Setiap
bangunan agama paling tidak bicara tentang keimanan, tentang akhlak, sila
(susila), tentang kemasyarakatan, dan juga ibadah. Ibadah sendiri dapat
digolongkan dalam dua macam, yakni ibadah muamalat dan ibadah yang langsung
kepada Tuhan. Hal yang paling penting dalam konsep agama-agama ketika bicara
tentang sila, itu bicara mengatur perilaku baik dan buruk.
Dalam
agama Buddha, kita tahu rukun iman agama Buddha ada lima,
1) Kepercayaan kepada Sang Hyang Adi Buddha
(untuk Buddha Dharma)
2) Kepercayaan kepada Bodhisatwa dan Para
Buddha
3) Kepercayaan kepada kitab suci
4) Kepercayaan kepada hukum-hukum
kesunyataan, meliputi Cattari Ariya Saccani, Kamma dan Punabbhava, Tilakkhana,
dan Paticcasamuppada.
5) Nibbana
Dalam
agama Buddha, Sila itu berangkat dari pemahaman terhadap Karma dan juga
pencapaian tujuan akhir manusia (Nibbana), mirip dengan agama Hindu yakni
Karmaphala dan Moksa. Hanya nanti yang
membedakan bagaimana cara memperolehnya atau cara melaksanakan dan mencapai
tujuan akhir. Kita tahu dalam agama Buddha itu ada keimanan atau Kredo (dalam
istilah Islamnya disebut Syahadat), “Aku berlindung kepada Buddha, Aku berlindung
kepada Dhamma, Aku berlindung kepada Sangha”.
Pada
saat “aku berlindung kepada Buddha”,
pengertian tentang Buddha yang sudah kita ketahui sebelumnya, bahwa Buddha
istilah Kebuddhaan dalam proses pencapaiannya dikategorikan dalam 3 hal:
1) Samma Sambuddha, dicapai dengan usaha
sendiri, tanpa dibantu oleh orang lain, dan dia juga bisa mengajarkannya kepada
orang lain, seperti Sidharta Gautama.
2) Paceka Buddha,yaitu Kebuddhaan yang
dicapai dengan usaha sendiri tetapi tidak bisa diajarkan kepada orang lain,
dalam artian dia tidak punya kemampuan.
3) Savaka Buddha,dicapai melalui perantara guru, dia
juga bisa mengajarkan kepada orang lain. tapi disini dia berusaha sendiri dalam
memaknai kebebasan mutlak tetapi ada jalannya, yaitu melelui sang guru.
Jadi
ketika kita berbicara tentang sila, kita bicara bagaimana mencapai Kebuddhaan,
pencerahan, atau penerangan sempurna. Kerena penerangan sempurna inilah capaian
terakhir dari yang menjadi tujuan hidup umat Buddha (Nibbana). Istilah untuk capaian umat Buddha yang
melakukan sila bisa savaka, paceka, dan samma Buddha. Hal yang dilakukan
sebagai upaya pencapaian kebuddhaan ini yaitu melalui Dhamma yang terbagi dalam
3 tingkatan:
1) Pariyati Dhamma, dilakukakan dengan
mempelajari Tipitaka/Tripitaka (Vinaya, Suta, dan Abidhamma).
2) Patipati Dhamma,dilakukan dengan
mempraktekkan Ariya Attangika Magga/ 8 jalan utama (Sila, Samadhi,dan Panna).
3) Pativeda Dhamma, dilakukan dengan
menghayati Magga, Phala, Nibbana.
Sila
dalam agama Buddha itu menjadi jalan praktis untuk mencapai Nibbana, tetapi
dalam agama Buddha kerangkanya harus selalu berfikir, berkata, dan berbuat,
Jadi tidak ada yang berhenti dalam satu ranah. Ketiganya harus sama-sama
dilakukan (, tidak hanya satu saja. Berfikir baik saja tanpa berkata dan
berbuat tidak akan mendapat pahala.
NB: Pertemuan minggu ke 7, Perbandingan Agama UIN Jakarta. @ 24 April 2015
kalo ada yang salah mohon dimaklumi, masih dalam proses belajar juga... :-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar