Sad
Darsana (Filsafat Yoga dan Weisesika)
Dosen
Pembimbing
Syaiful
Azmi, M.A
Oleh
Mohammad
Rifky Nuris
(1113032100034)
JURUSAN
PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS
USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014
I.
Pendahuluan
Ada banyak jalan untuk mencapai
kebenaran tertinggi. Jalan yang berbeda-beda itu tampakanya memiliki tujuan
yang sama yaitu sebuah penyatuan tertinggi antara Atman dengan Brahman.
Penganut suatu jalan rohani dapat saja tidak memiliki pemahaman lengkap tentang
sabda Tuhan dan tidak akan pernah selama masih berada dalam jalan rohani
tersebut.
Ajaran Yoga dibangun oleh Maharsi
Patanjali, dan merupakan ajaran yang sangat popular di kalangan umat Hindu.
Ajaran Yoga merupakan ilmu yang bersifat praktis dari ajaran Veda. Yoga berakar
dari kata Yuj yang berarti berhubungan, yaitu bertemunya roh individu
(atman/pursa) dengan roh universal (Paramatman/Mahapurusa). Maharsi Patanjali
mengartikan yoga sebagai Cittavrttinirodha yaitu penghentian gerak pikiran.
II.
Filsafat
Yoga
A.
Pengertian
Yoga
Secara etimologi, kata Yoga
diturunkan dari kata yuj (sansakerta),
yoke (Inggris), yang berarti
“penyatuan” (union). Yoga berarti penyatuan kesadaran manusia dengan sesuatu
yang lebih luhur, transenden, lebih kelal dan ilahi. Oleh karena itu, yoga
menyatukan kembali semua pertentangan yang meliputi pikiran dan tubuh,
keheningan dan gerakan, maskulin dan feminine, matahari dan bulan, guna membawa
rekonsiliasi atau perdamaian diantara mereka.
Yoga bermakna sebagai “penyatuan
dengan alam” atau “penyatuan dengan Sang Pencipta”. Yoga merupakan salah satu
dari enam ajaran dalam filsafat Hindu, yang menitikberatkan pada aktifitas
meditasi atau “tapa” di mana seseorang memusatkan seluruh pikiran untuk
mengontrol panca inderanya dan tubuhnya secara keseluruhan. Patanjali mendefinisikan Yoga sebagai
kegiatan mengendalikan gerak-gerak pikiran. Secara spiritual yoga merupakan
suatu proses dimana identitas jiwa individual dan jiwa Hyang Agung disadari
oleh seorang yogin, Yogin adalah orang yang menjalani yoga, orang yang telah
mencapai persatuan dengan Hyang Agung.
Yoga juga berarti berusaha sekuat-kuatnya
dan didalam ajaran tentang kelepasan Yoga itu berarti latihan-latihan rohani,
yang meyebabkan orang dapat memisahkan purusa prakrti.[1]
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Yoga sebagai cara atau jalan untuk mengendalikan pikiran yang
terboyektifkan serta kecenderungan alami pikiran dan mengatur segala
kegelisahan-kegelisahan pikiran agar tetap tak terpengaruh sehingga bisa
mencapai penyatuan antara kesadaran unit dan kesadaran kosmik.
B.
Astangga
Yoga
Ajaran
sankhya yoga mengatakan bahwa kelepasan itu dapat mencapai melalui pandangan
spiritual pada kebenaran roh sebagai suatu daya hidup yang kekal yang berbeda
yang berdeda dengan badan dan pikiran. Pandangan dapat dimiliki bila pikirkan
itu bersih, tenang tak digoncangkan oleh apapun juga. Untuk meningkatkan
kebersihan pikiran itu yoga mengajarkan adanya 8 jalan yang bertahap-tahap yang
sering disebut astangga yoga, yaitu:
1. Disiplin
Moral (Yama)
Definisi ‘yama’ dijelaskan dalam Yoga
sutras “Yama atas tanpa kekerasan, kebenaran, tidak mencuri, selibat dan
ketidak tamakan” (ahimsa satyasteya
brahmacaryaparigraha yamah).
Disiplin moral atau persiapan dibidang
kesusilaan, yang terdiri dari ahimsa atau
larangan membunuh atau membenci apa pun juga, larangan mencuri, berbuat mesum,
berbuat curang, dan kikir, dan secara positif harus murni atau bersih lahir dan
batin, dan berbakti kepada Tuhan.[2]
2. Disiplin
Diri (Niyama)
Pada
ruas kedua ini bertujuan untuk mengendalikan energi psiko-fisis yang
ditimbulkan dari pengendalian dari kehidupan para yogi. Niyama juga memiliki lima penengendalian diri tingkat rohani dan
sebagai penyokong dari pantangan dasar sebelumnya diuraikan dalam Patanjali
Yoga Sutra II.40-45.[3]
a)
Sauca,
kebersihan lahir batin. Lambat laun seseorang yang menekuni prinsip ini akan
mulai mengesampingkan kontak fisik dengan badan orang lain dan membunuh nafsu
yang mengakibatkan kekotoran dari kontak fisik tersebut (Patanjali
Yoga Sutra II.40). Sauca juga menganjurkan kebajikan Sattvasuddi atau pembersihan
kecerdasan untuk membedakan (1) saumanasya atau keriangan hati, (2) ekagrata
atau pemusatan pikiran, (3) indriajaya atau pengawsan nafsu-nafsu, (4)
atmadarsana atau realisasi diri (Patanjali Yoga Sutra II.41).
b)
Santosa
atau kepuasan. Hal ini dapat membawa praktisi Yoga kedalam kesenangan yang
tidak terkatakan. Dikatakan dalam kepuasan terdapat tingkat kesenangan
transendental (Patanjali Yoga Sutra
II.42).
c)
Tapa
atau mengekang. Melalui pantangan tubuh dan pikiran akan menjadi kuat dan
terbebas dari noda dalam aspek spiritual (Patanjali
Yoga Sutra II.43).
d)
Svadhyaya
atau mempelajari kitab-kitab suci, melakukan japa (pengulangan pengucapan
nama-nama suci Tuhan) dan penilaian diri sehingga memudahkan tercapainya
“istadevata-samprayogah, persatuan dengan apa yang dicita-citakannya (Patanjali Yoga Sutra II.44).
e)
Isvarapranidhana
atau penyerahan dan pengabdian kepada Tuhan yang akan mengantarkan seseorang
kepada tingkatan samadhi (Patanjali Yoga
Sutra II.45).
3. Postur
Tubuh (Asana)
Asana merupakan sikap duduk pada waktu
melaksanakan yoga. Buku
Yogasutra tidak mengharuskan sikap duduk tertentu, tetapi menyerahkan
sepenuhnya kepada siswa sikap duduk yang paling disenangi
dan relaks, asalkan dapat
menguatkan konsentrasi dan pikiran dan tidak terganggu karena badan merasakan
sakit akibat sikap duduk yang dipaksakan.
Selain itu, sikap duduk yang dipilih agar dapat berlangsung lama,
serta mampu mengendalikan sistem
saraf sehingga terhindar dari goncangan-goncangan pikiran. Sikap duduk yang
relaks antara lain : silasana (bersila) bagi laki-laki dan
duduk bertimpuh
(menduduki tumit) bagi wanita, dengan punggung yang lurus dan tangan berada
diatas kedua paha, telapak tangan menghadap keatas.
4. Pengendalian
Nafas (Pranayama)
Pranayama adalah pengaturan nafas keluar masuk paru-paru melalui
lubang hidung dengan tujuan menyebarkan prana (energi) keseluruh tubuh. Pada
saat manusia menarik nafas mengeluarkan suara So, dan saat mengeluarkan nafas
berbunyi Ham. Dalam bahasa Sansekerta So berarti energi kosmik, dan Ham berarti
diri sendiri (saya). Ini berarti setiap detik manusia mengingat diri dan energi
kosmik. Pranayama terdiri dari : Puraka yaitu memasukkan nafas, Kumbhaka yaitu
menahan nafas, dan Recaka yaitu mengeluarkan nafas.
5. Pengendalian
Indera (Pratyahara)
Pratyahara merupakan penguasaan panca
indera oleh pikiran sehingga apapun yang diterima panca indrea melalui syaraf
ke otak tidak mempengaruhi pikiran. Pada umumnya indera menimbulkan nafsu
kenikmatan setelah mempengaruhi pikiran. Yoga bertujuan memutuskan mata rantai
olah pikiran dari rangsangan syaraf ke keinginan (nafsu), sehingga citta
menjadi murni dan bebas dari goncangan-goncangan. Jadi yoga tidak bertujuan
mematikan kemampuan indera.
6. Konsentrasi
(Dharana)
Dharana artinya mengendalikan pikiran
agar terpusat pada suatu objek konsentrasi. Objek itu dapat berada dalam
tubuh kita sendiri, misalnya “selaning lelata” (sela-sela alis) yang dalam
keyakinan Sivaism disebut sebagai “Trinetra” atau mata ketiga Siwa. Dapat pula
pada “tungtunging panon” atau ujung (puncak) hidung sebagai objek pandang
terdekat dari mata. Para Sulinggih (Pendeta) di Bali banyak yang menggunakan
ubun-ubun (sahasrara) sebagai objek karena disaat “ngili atma” di ubun-ubun
dibayangkan adanya padma berdaun seribu dengan mahkotanya berupa atman yang
bersinar “spatika” yaitu berkilau bagaikan mutiara.
Objek lain diluar tubuh manusia
misalnya bintang, bulan, matahari, dan gunung. Penggunaan bintang sebagai objek
akan membantu para yogin menguatkan pendirian dan keyakinan pada ajaran Dharma,
jika bulan yang digunakan membawa kearah kedamaian batin, matahari untuk
kekuatan phisik, dan gunung untuk kesejahteraan. Objek diluar badan yang lain
misalnya patung dan gambar dari Dewa-Dewi, Guru Spiritual. yang bermanfaat bagi
terserapnya vibrasi kesucian dari objek yang ditokohkan itu. Kemampuan
melaksanakan Dharana dengan baik akan memudahkan mencapai Dhyana dan Samadhi.
7. Meditasi
(Dhyana)
Dhyana ialah bahwa orang harus
memusatkan perhatiannya pada sesuatu, supaya menjadi tenang. Sesudah ketenangan
tercapai orang harus merenungkan sesuatu itu, hingga akhirnya memuncak pada
bagian terakhir, yaitu Samadhi.[4]
8. Ekstasi
(Samadhi)
Samadhi, yang menghapuskan perasaan
adanya identitas. Tubuh dan citta menjadi mati bagi segala perangsang dari
luar. Hanya sasaran yang direnungkan itulah yang tinggal bersinar-sinar.[5]
Delapan aspek Astangga Yoga diatas
dapat dibagi menjadi dua bagian yang besar, yaitu: pertama, mulai dari yama
sampai pratyahara disebut pertolongan-pertolongan yang tak langsung atau dari
luar (bahiranga). Kedua, mulai mulai dari dharana sampai Samadhi, yang disebut
pertolongan-pertolongan yang langsung dari dalam (antaranga).[6]
C.
Tuhan
dalam Ajaran Yoga
Patanjali
menerima eksistensi Tuhan (Isvara) dimana Tuhan menurutnya adalah The Perfect Supreme Being, bersifat
abadi, meliputi segalanya, Maha Kuasa, Maha Tahu, dan Maha Ada. Tuhan adalah
purusa yang khusus yang tidak dipengaruhi oleh kebodohan, egoisme, nafsu,
kebencian dan takut akan kematian. Ia bebas dari Karma, Karmaphala dan
impresi-impresi yang bersifat laten.
Patanjali beranggapan bahwa
individu-individu memiliki esensi yang sama dengan Tuhan, akan tetapi oleh
karena ia dibatasi oleh sesuatu yang dihasilkan oleh keterikatan dan karma,
maka ia berpisah dengan kesadarannya tentang Tuhan dan menjadi korban dari
dunia material ini.
III.
Filsafat
Weisesika
A.
Tujuh Unsur Alam
Waisesika merupakan salah satu
aliran filsafat India yang tergolong kedalam Sad Darsana agaknya lebih tua
dibandingkan dengan filsafat Nyaya-Waisiseka sebagai filsafat muncul pada
abad ke 4 SM, dengan tokohnya ialah Kanada (ulaka). Buah karyanya adalah Waisesika Sutra yang merupakan
sumber dari ajaran Waisiseka. Pada abad kesebelas masehi dalam perkembangannya
berfungsi dengan Nyaya sehingga banyak para filosof menyebutnya Nyaya
Waisesika.
Secara umum Waisesika membicarakan
soal dharma yaitu apa yang memberikan kesejahteraan di dunia ini dan yang dapat
memberikan kelepasan. Ajarannya yang terpenting ialah tentang katagori
(unsur) yang menjadikan segala sesuatu yang ada di alam ini. Menurut
Waisesika ada tujuh kategori (padharta), yaitu: substansi (drawya), kwalitas
(guna), aktivitas (karma), sifat umum (samanya), sifat perorangan (wisesa),
pelekatan (samawaya), dan ketidakadaan (abhawa).
1) Substansi
(drawya)
Substansi adalah zat yang ada dengan
sendirinya dan bebas dari pengaruh unsur-unsur lain. Namun unsur lain tidak
dapat ada tanpa substansi. Substansi (drawya) dapat menjadi sebab yang melekat
pada apa yang dijadikannya. Atau drawya dapat menjadi tidak ada pada apa yang
dihasilkannya. Ada sembilan subsatansi yang dinyatakan oleh Waisesika yaitu:
bumi (tanah), api (panas), air (zat cair), udara (hawa), akasa (ether), waktu
(kala), ruang (tempat), akal (manas), pribadi (jiwa(atma).
Semua substansi di atas, riel, tetap
dan kekal, namun hanya hawa, waktu, dan akasa bersifattak terbatas. Kombinasi
dari Sembilan substansi itulah membentuk alam semesta beserta isinya menjadikan
hukum-hukumnya yang berlaku terhadap semua yang ada di alam ini baik bersifat
physik maupun yang bersifat rokhaniah.
Adapun yang termasuk substansi
badani (physik) ialah: bumi,air, api, udara, ruang, waktu dan akasa. Sedang
yang tergolong substansi rokhaniah terdiri dari akal (manas/ pikiran) dan
pribadi (jiwa/atman). Kedua substansi rokhaniah ini bersifat kekal dan pada
setiap makhluk (manusia) hanya terdapat satu jiwa dan satu manas.
Demikianlah ppribadi (jiwa) itu bersifat individu dan menjadi sumber kesadaran
setiap mahklik yang senantiasa berhubungan dengan kegiatan badani (physik).
Setiap pribadi (atma) memiliki mmanas tersendiri yang dipakai sebagai alat
untuk mengenal dan mengalami segala sesuatu melalui alat physic termasuk
juga dipakai sebagai alat untuk mencapai kebebasan.
Oleh karena itu setiap mahkluk
(manusia) dijiwai oleh pribadi (jiwa/atma) maka pandangan waisesika terhadap
jiwa adalah riel dan pluralis itu benar-benar ada dan tak terbatas jumlahnya.
2) Kwalitas
( guna)
Guna ialah keadaan atau sifat dari
suatu substansi. Guna sesungguhnya nyata dan terpisah dari benda (substansi)
namun tidak dapat dipisahkan secara mutlak dari substansi yang diberi sifat.
Pada substansi terdapat lima kwalitas kebendaan yaitu: bau , rasa, warna, raba,
dan rasa. Sedangkan kwalitas rokhaniah terdiri dari 24 kwalitas
yakni:Kesenangan, kesedihan, keinginan, dharma,adharma, warna, rasa, bau,
sentuhan, bunyi, bilangan, besar, perbedaan, hubungan, kejauhan,
kedekatan, tak berhubungan, kecairan, kepekaan, pengetahuan, perjuangan,
kecenderungan, kesegaran, kebahasiaan.
Hubungan kwalitas dengan substansi
sangat erat dan tidak mungkin dipisahkan karena keduanya senantiasa mewujudkan
satu kesatuan.
Contoh: merah adalah suatu warna
(sifat) yang berbeda dan terpisah dengan substansi, tetapi sulit dapat
terjadi warna merah yang tidak melekat pada suatu benda. Atau tidak ada merah
tanpa ada suatu benda (substansi) yang diwarnai oleh warna merah. Tetapi benda
dapat ada dan terlihat tanpa warna merah. Ketergantungan seperti itu disebut
pelekatan/samawanya).
3) Aktifitas
( karma)
Tidak semua substansi (zat) dapat
bergerak. Hanya substansi yang bersifat terbatas saja dapat bergerak atau
mengubah tempatnya. Sedangkan substansi yang tak terbatas (atma,hawa dan akasa)
tidak dapat bergerak karena telah memenuhi segala yang ada.
Gerakan-gerakan dari benda-benda di
alamini bukan bersumber dari dirinya sendiri, melainkan ada sesuatu yang
berkesadaan yang menjadi sumber gerakan itu. Benda-benda hanya dapat menerima
gerakan dari sesuatu yang berkesadaran. Bila terlihat kenyataan yang terjadi di
alamini seperti adanya hembusan angin, peredaran bumi dan planet-planet, maka
tentu ada sumber penggerak yang adikodrati. Sumber yang adikodrati itulah
Tuhan.
Karena Tuhan sebagai sumber gerakan
alamini makaTuhan Maha mengetahui segala gerak dan perilaku benda-benda di alam
ini termasuk mengetahui benar perilaku (karma) manusia.
Atas dasar itu jelaslah Waisesika
meyakini adanyaTuhan secara anumana. Diyakini Tuhan adalah Maha Tahu,
menjadi sumber kesadaran yang tertinggi dan waisesika meyakini bahwa Tuhan
menciptakan alamini dengan jalan mengatur komposisi atom-atom yang ada.
4) Samanya.
Sifat umum (samanya) ialah sifat
terdapat pada sekelompok atom yang sudah tentu berbeda-beda dengan sifat atom
yang lain, seperti sifat kelompok atom air akan berbeda dengan kelompok atom
bumi maupun dengan sifat atom mana dan sebagainya. Ciri-ciri inilah yang
disebut samanya. Samanya menyebabkan adanya kelompok-kelompok substansi
yang berbeda-beda dialam ini. Namun di samping sifat umum , maka setiap benda
termasuk atom-atom memiliki sifat perorangan yang kekal, yang membedakan
satu atom dengan atom yang lain.
5) Wisesa
Sifat perorangan (individu) ada banyak
dan beraneka ragam karena setiap benda atau orang memiliki sifat
tersendiri dan berbeda antara benda yang satu dengan yang lain. Karena setiap
benda (substansi) memiliki wisesa maka wisesa ini bersifat kekal.
6) Samawaya
Pelekatan juga bersifat kekal dan
hanya ada satu yang disebut samawaya. Pelekatan dikatakan kekal karena
pelakatan itu tentu terjadi pada benda-benda yakni pelakatan antara benda
(zat) dengan kualitasnya seperti : api-panas, kapur-putih,
tinta-hitam,es-dingin, dan sebagainya.
Api, air, dan tanah terjadi dari
substansi yang atomnya bersifat kekal, maka tentu kwalitasnyapun kekal termasuk
hubungan yang tak terpisahkan (samawaya/pelekatan) keadaannya kekal pula. Namun
sifat kelekatan itu hanyalah satu walaupun terdapat pada bermacam-macam
substansi.
7) Abhawa.
Abhawa dikatakan kategori yang
bersifat negatif kerena abhawa menyatakan ketidak-adaan, yaitu ketidak-adaan
dari sesuatu. Jadi abhawapun ternyata menyebabkan terjadinya sesuatu yakni
ketidak-adaan. Ketidak adaan disini bukanlah mutlak (absolut) melainkan ketidak
adaan yang bersifat khusus dan berlaku pada ruang waktu tertentu dan terbatas.
Contoh: di dalam ruangan tidak ada
lemari. Jadi yang diamati dalam ruangan itu ialah adanya abhawa khusus
untuk almari itu tidaklah mutlak untuk semua waktu dan ruang. Demikian pula
halnya dengan benda lain, seperti bunga itu tidak kuning, udara itu tidak
berwarna
Abhawa dibedakan atas 2 (dua) yaitu :
a) Samsargabhawa
adalah ketidak-adaan suatu benda karena memang belum pernah dibuat, seperti
periuk tidak ada karena belum dibuat dari tanah liat oleh pembuatnya. Dalam hal
ini termasuk pula tidak-adanya sesuatu pada suatu benda (bunga tidak berwarna
kuning).
b) Anyonyabhawa
adalah ketidak adaan dari suatu benda karena rusak (hancur) seperti tidak
adanya mangkok atau rumah karena sudah pecah atau habis terbakar.
DAFTAR
PUSTAKA
A. G Honig Jr. 1996. Ilmu Agama. Jakarta:
Badan Penerbit Kristen
Hadiwijoyo, Harun. 2010. Agama Hindu dan Budha.
Jakarta: Gunung Mulia
Hadiwijono,
Harun. 1985. Sari Filsafat India. Jakarta: Gunung Mulia
http://iputumardika.wordpress.com/2011/03/08/astangga-yoga
(23 September 2014)
[1]
Dr. A. G Honig Jr. Ilmu Agama .
(Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1966), hal. 111.
[2]
Dr. Harun Hadiwijoyo. Agama Hindu dan
Budha . (Jakarta: Gunung Mulia, 2010) hal. 31.
[3]
Diakses di http://iputumardika.wordpress.com/2011/03/08/astangga-yoga
[4]Dr.
Harun Hadiwijono, Op.Cit., hal. 31.
[5]Ibid.
[6]
Dr. Harun Hadiwijono. Sari Filsafat India,
(Jakarta, Gunung Mulia. 1985).hal. 52

Tidak ada komentar:
Posting Komentar