Blogger Widgets

Jumat, 27 Maret 2015

Sad Darsana (Filsafat Yoga dan Weisesika)

Sad Darsana (Filsafat Yoga dan Weisesika)
Makalah ini dibuat Sebagai Revisi dan Pengganti UTS Mata Kuliah Hinduisme

Dosen Pembimbing
Syaiful Azmi, M.A


Oleh
Mohammad Rifky Nuris
(1113032100034)

JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014



I.              Pendahuluan
            Ada banyak jalan untuk mencapai kebenaran tertinggi. Jalan yang berbeda-beda itu tampakanya memiliki tujuan yang sama yaitu sebuah penyatuan tertinggi antara Atman dengan Brahman. Penganut suatu jalan rohani dapat saja tidak memiliki pemahaman lengkap tentang sabda Tuhan dan tidak akan pernah selama masih berada dalam jalan rohani tersebut.
            Ajaran Yoga dibangun oleh Maharsi Patanjali, dan merupakan ajaran yang sangat popular di kalangan umat Hindu. Ajaran Yoga merupakan ilmu yang bersifat praktis dari ajaran Veda. Yoga berakar dari kata Yuj yang berarti berhubungan, yaitu bertemunya roh individu (atman/pursa) dengan roh universal (Paramatman/Mahapurusa). Maharsi Patanjali mengartikan yoga sebagai Cittavrttinirodha yaitu penghentian gerak pikiran.

II.           Filsafat Yoga
A.           Pengertian Yoga
            Secara etimologi, kata Yoga diturunkan dari kata yuj (sansakerta), yoke (Inggris), yang berarti “penyatuan” (union). Yoga berarti penyatuan kesadaran manusia dengan sesuatu yang lebih luhur, transenden, lebih kelal dan ilahi. Oleh karena itu, yoga menyatukan kembali semua pertentangan yang meliputi pikiran dan tubuh, keheningan dan gerakan, maskulin dan feminine, matahari dan bulan, guna membawa rekonsiliasi atau perdamaian diantara mereka.
            Yoga bermakna sebagai “penyatuan dengan alam” atau “penyatuan dengan Sang Pencipta”. Yoga merupakan salah satu dari enam ajaran dalam filsafat Hindu, yang menitikberatkan pada aktifitas meditasi atau “tapa” di mana seseorang memusatkan seluruh pikiran untuk mengontrol panca inderanya dan tubuhnya secara keseluruhan.   Patanjali mendefinisikan Yoga sebagai kegiatan mengendalikan gerak-gerak pikiran. Secara spiritual yoga merupakan suatu proses dimana identitas jiwa individual dan jiwa Hyang Agung disadari oleh seorang yogin, Yogin adalah orang yang menjalani yoga, orang yang telah mencapai persatuan dengan Hyang Agung.
            Yoga juga berarti berusaha sekuat-kuatnya dan didalam ajaran tentang kelepasan Yoga itu berarti latihan-latihan rohani, yang meyebabkan orang dapat memisahkan purusa prakrti.[1] Jadi, dapat disimpulkan bahwa Yoga sebagai cara atau jalan  untuk mengendalikan pikiran yang terboyektifkan serta kecenderungan alami pikiran dan mengatur segala kegelisahan-kegelisahan pikiran agar tetap tak terpengaruh sehingga bisa mencapai penyatuan antara kesadaran unit dan kesadaran kosmik.

B.            Astangga Yoga
            Ajaran sankhya yoga mengatakan bahwa kelepasan itu dapat mencapai melalui pandangan spiritual pada kebenaran roh sebagai suatu daya hidup yang kekal yang berbeda yang berdeda dengan badan dan pikiran. Pandangan dapat dimiliki bila pikirkan itu bersih, tenang tak digoncangkan oleh apapun juga. Untuk meningkatkan kebersihan pikiran itu yoga mengajarkan adanya 8 jalan yang bertahap-tahap yang sering disebut astangga yoga, yaitu:
1.    Disiplin Moral (Yama)
          Definisi ‘yama’ dijelaskan dalam Yoga sutras “Yama atas tanpa kekerasan, kebenaran, tidak mencuri, selibat dan ketidak tamakan” (ahimsa satyasteya brahmacaryaparigraha yamah).
          Disiplin moral atau persiapan dibidang kesusilaan, yang terdiri dari ahimsa atau larangan membunuh atau membenci apa pun juga, larangan mencuri, berbuat mesum, berbuat curang, dan kikir, dan secara positif harus murni atau bersih lahir dan batin, dan berbakti kepada Tuhan.[2]
2.    Disiplin Diri (Niyama)
          Pada ruas kedua ini bertujuan untuk mengendalikan energi psiko-fisis yang ditimbulkan dari pengendalian dari kehidupan para yogi.  Niyama juga memiliki lima penengendalian diri tingkat rohani dan sebagai penyokong dari pantangan dasar sebelumnya diuraikan dalam Patanjali Yoga Sutra II.40-45.[3]
a)      Sauca, kebersihan lahir batin. Lambat laun seseorang yang menekuni prinsip ini akan mulai mengesampingkan kontak fisik dengan badan orang lain dan membunuh nafsu yang mengakibatkan kekotoran dari kontak fisik tersebut (Patanjali Yoga Sutra II.40). Sauca juga menganjurkan kebajikan Sattvasuddi atau pembersihan kecerdasan untuk membedakan (1) saumanasya atau keriangan hati, (2) ekagrata atau pemusatan pikiran, (3) indriajaya atau pengawsan nafsu-nafsu, (4) atmadarsana atau realisasi diri (Patanjali Yoga Sutra II.41).
b)     Santosa atau kepuasan. Hal ini dapat membawa praktisi Yoga kedalam kesenangan yang tidak terkatakan. Dikatakan dalam kepuasan terdapat tingkat kesenangan transendental (Patanjali Yoga Sutra II.42).
c)      Tapa atau mengekang. Melalui pantangan tubuh dan pikiran akan menjadi kuat dan terbebas dari noda dalam aspek spiritual (Patanjali Yoga Sutra II.43).
d)     Svadhyaya atau mempelajari kitab-kitab suci, melakukan japa (pengulangan pengucapan nama-nama suci Tuhan) dan penilaian diri sehingga memudahkan tercapainya “istadevata-samprayogah, persatuan dengan apa yang dicita-citakannya (Patanjali Yoga Sutra II.44).
e)      Isvarapranidhana atau penyerahan dan pengabdian kepada Tuhan yang akan mengantarkan seseorang kepada tingkatan samadhi (Patanjali Yoga Sutra II.45).
3.    Postur Tubuh (Asana)
          Asana merupakan sikap duduk pada waktu melaksanakan yoga. Buku Yogasutra tidak mengharuskan sikap duduk tertentu, tetapi menyerahkan sepenuhnya kepada siswa sikap duduk yang paling disenangi dan relaks, asalkan dapat menguatkan konsentrasi dan pikiran dan tidak terganggu karena badan merasakan sakit akibat sikap duduk yang dipaksakan.
          Selain itu, sikap duduk yang dipilih agar dapat berlangsung lama, serta mampu mengendalikan sistem saraf sehingga terhindar dari goncangan-goncangan pikiran. Sikap duduk yang relaks antara lain : silasana (bersila) bagi laki-laki dan duduk bertimpuh (menduduki tumit) bagi wanita, dengan punggung yang lurus dan tangan berada diatas kedua paha, telapak tangan menghadap keatas.
4.    Pengendalian Nafas (Pranayama)
          Pranayama adalah pengaturan nafas keluar masuk paru-paru melalui lubang hidung dengan tujuan menyebarkan prana (energi) keseluruh tubuh. Pada saat manusia menarik nafas mengeluarkan suara So, dan saat mengeluarkan nafas berbunyi Ham. Dalam bahasa Sansekerta So berarti energi kosmik, dan Ham berarti diri sendiri (saya). Ini berarti setiap detik manusia mengingat diri dan energi kosmik. Pranayama terdiri dari : Puraka yaitu memasukkan nafas, Kumbhaka yaitu menahan nafas, dan Recaka yaitu mengeluarkan nafas.
5.    Pengendalian Indera (Pratyahara)
          Pratyahara merupakan penguasaan panca indera oleh pikiran sehingga apapun yang diterima panca indrea melalui syaraf ke otak tidak mempengaruhi pikiran. Pada umumnya indera menimbulkan nafsu kenikmatan setelah mempengaruhi pikiran. Yoga bertujuan memutuskan mata rantai olah pikiran dari rangsangan syaraf ke keinginan (nafsu), sehingga citta menjadi murni dan bebas dari goncangan-goncangan. Jadi yoga tidak bertujuan mematikan kemampuan indera.
6.    Konsentrasi (Dharana)
          Dharana artinya mengendalikan pikiran agar terpusat pada suatu objek konsentrasi. Objek itu dapat berada dalam tubuh kita sendiri, misalnya “selaning lelata” (sela-sela alis) yang dalam keyakinan Sivaism disebut sebagai “Trinetra” atau mata ketiga Siwa. Dapat pula pada “tungtunging panon” atau ujung (puncak) hidung sebagai objek pandang terdekat dari mata. Para Sulinggih (Pendeta) di Bali banyak yang menggunakan ubun-ubun (sahasrara) sebagai objek karena disaat “ngili atma” di ubun-ubun dibayangkan adanya padma berdaun seribu dengan mahkotanya berupa atman yang bersinar “spatika” yaitu berkilau bagaikan mutiara.
          Objek lain diluar tubuh manusia misalnya bintang, bulan, matahari, dan gunung. Penggunaan bintang sebagai objek akan membantu para yogin menguatkan pendirian dan keyakinan pada ajaran Dharma, jika bulan yang digunakan membawa kearah kedamaian batin, matahari untuk kekuatan phisik, dan gunung untuk kesejahteraan. Objek diluar badan yang lain misalnya patung dan gambar dari Dewa-Dewi, Guru Spiritual. yang bermanfaat bagi terserapnya vibrasi kesucian dari objek yang ditokohkan itu. Kemampuan melaksanakan Dharana dengan baik akan memudahkan mencapai Dhyana dan Samadhi.
7.    Meditasi (Dhyana)
          Dhyana ialah bahwa orang harus memusatkan perhatiannya pada sesuatu, supaya menjadi tenang. Sesudah ketenangan tercapai orang harus merenungkan sesuatu itu, hingga akhirnya memuncak pada bagian terakhir, yaitu Samadhi.[4]
8.    Ekstasi (Samadhi)
          Samadhi, yang menghapuskan perasaan adanya identitas. Tubuh dan citta menjadi mati bagi segala perangsang dari luar. Hanya sasaran yang direnungkan itulah yang tinggal bersinar-sinar.[5]

            Delapan aspek Astangga Yoga diatas dapat dibagi menjadi dua bagian yang besar, yaitu: pertama, mulai dari yama sampai pratyahara disebut pertolongan-pertolongan yang tak langsung atau dari luar (bahiranga). Kedua, mulai mulai dari dharana sampai Samadhi, yang disebut pertolongan-pertolongan yang langsung dari dalam (antaranga).[6]

C.           Tuhan dalam Ajaran Yoga
            Patanjali menerima eksistensi Tuhan (Isvara) dimana Tuhan menurutnya adalah The Perfect Supreme Being, bersifat abadi, meliputi segalanya, Maha Kuasa, Maha Tahu, dan Maha Ada. Tuhan adalah purusa yang khusus yang tidak dipengaruhi oleh kebodohan, egoisme, nafsu, kebencian dan takut akan kematian. Ia bebas dari Karma, Karmaphala dan impresi-impresi yang bersifat laten.
            Patanjali beranggapan bahwa individu-individu memiliki esensi yang sama dengan Tuhan, akan tetapi oleh karena ia dibatasi oleh sesuatu yang dihasilkan oleh keterikatan dan karma, maka ia berpisah dengan kesadarannya tentang Tuhan dan menjadi korban dari dunia material ini.

III.        Filsafat Weisesika
A.           Tujuh  Unsur Alam
            Waisesika merupakan salah satu aliran filsafat India yang tergolong kedalam Sad Darsana agaknya lebih tua dibandingkan  dengan filsafat Nyaya-Waisiseka sebagai filsafat muncul pada abad ke 4 SM, dengan tokohnya ialah Kanada (ulaka). Buah karyanya adalah Waisesika Sutra  yang merupakan sumber dari ajaran Waisiseka. Pada abad kesebelas masehi dalam perkembangannya berfungsi dengan Nyaya sehingga banyak para filosof menyebutnya Nyaya Waisesika.
            Secara umum Waisesika membicarakan soal dharma yaitu apa yang memberikan kesejahteraan di dunia ini dan yang dapat memberikan kelepasan. Ajarannya yang terpenting  ialah tentang katagori (unsur) yang menjadikan segala sesuatu yang ada di alam ini. Menurut Waisesika ada tujuh kategori (padharta), yaitu: substansi (drawya), kwalitas (guna), aktivitas (karma), sifat umum (samanya), sifat perorangan (wisesa), pelekatan (samawaya), dan ketidakadaan (abhawa).
1)   Substansi (drawya)
          Substansi adalah zat yang ada dengan sendirinya dan bebas dari pengaruh unsur-unsur lain. Namun unsur lain tidak dapat ada tanpa substansi. Substansi (drawya) dapat menjadi sebab yang melekat pada apa yang dijadikannya. Atau drawya dapat menjadi tidak ada pada apa yang dihasilkannya. Ada sembilan subsatansi yang dinyatakan oleh Waisesika yaitu: bumi (tanah), api (panas), air (zat cair), udara (hawa), akasa (ether), waktu (kala), ruang (tempat), akal (manas), pribadi (jiwa(atma).
          Semua substansi di atas, riel, tetap dan kekal, namun hanya hawa, waktu, dan akasa bersifattak terbatas. Kombinasi dari Sembilan substansi itulah membentuk alam semesta beserta isinya menjadikan hukum-hukumnya yang berlaku terhadap semua yang ada di alam ini baik bersifat physik maupun yang bersifat rokhaniah.
          Adapun yang termasuk  substansi badani (physik) ialah: bumi,air, api, udara, ruang, waktu dan akasa. Sedang yang tergolong substansi rokhaniah terdiri dari akal (manas/ pikiran) dan pribadi (jiwa/atman). Kedua substansi rokhaniah ini bersifat kekal dan pada setiap makhluk (manusia) hanya terdapat satu jiwa  dan satu manas. Demikianlah ppribadi (jiwa) itu bersifat individu dan menjadi sumber kesadaran setiap mahklik yang senantiasa berhubungan dengan kegiatan badani (physik). Setiap pribadi (atma) memiliki mmanas tersendiri yang dipakai sebagai alat untuk mengenal dan mengalami segala sesuatu melalui alat  physic termasuk juga dipakai sebagai alat untuk mencapai kebebasan.
          Oleh karena itu setiap mahkluk  (manusia) dijiwai oleh pribadi (jiwa/atma) maka pandangan waisesika terhadap jiwa adalah riel dan pluralis itu benar-benar ada dan tak terbatas jumlahnya.
2)   Kwalitas ( guna)
          Guna ialah keadaan atau sifat dari suatu substansi. Guna sesungguhnya nyata dan terpisah dari benda (substansi) namun tidak dapat dipisahkan secara mutlak dari substansi yang diberi sifat. Pada substansi terdapat lima kwalitas kebendaan yaitu: bau , rasa, warna, raba, dan rasa. Sedangkan kwalitas rokhaniah terdiri dari 24 kwalitas yakni:Kesenangan, kesedihan, keinginan, dharma,adharma, warna, rasa, bau, sentuhan, bunyi, bilangan,  besar, perbedaan, hubungan, kejauhan, kedekatan, tak berhubungan, kecairan, kepekaan, pengetahuan, perjuangan, kecenderungan, kesegaran, kebahasiaan.
          Hubungan kwalitas dengan substansi sangat erat dan tidak mungkin dipisahkan karena keduanya senantiasa mewujudkan satu kesatuan.
          Contoh: merah adalah suatu warna (sifat) yang berbeda dan terpisah  dengan substansi, tetapi sulit dapat terjadi warna merah yang tidak melekat pada suatu benda. Atau tidak ada merah tanpa ada suatu benda (substansi) yang diwarnai oleh warna merah. Tetapi benda dapat ada dan terlihat tanpa warna merah. Ketergantungan seperti itu disebut pelekatan/samawanya).
3)   Aktifitas ( karma)
          Tidak semua substansi (zat) dapat bergerak. Hanya substansi yang bersifat terbatas saja  dapat bergerak atau mengubah tempatnya. Sedangkan substansi yang tak terbatas (atma,hawa dan akasa) tidak dapat bergerak karena telah memenuhi segala yang ada.
          Gerakan-gerakan dari benda-benda di alamini bukan bersumber dari dirinya sendiri, melainkan ada sesuatu yang berkesadaan yang menjadi sumber gerakan itu. Benda-benda hanya dapat menerima gerakan dari sesuatu yang berkesadaran. Bila terlihat kenyataan yang terjadi di alamini seperti adanya hembusan angin, peredaran bumi dan planet-planet, maka tentu ada sumber  penggerak yang adikodrati. Sumber yang adikodrati itulah Tuhan.
          Karena Tuhan sebagai sumber gerakan alamini makaTuhan Maha mengetahui segala gerak dan perilaku benda-benda di alam ini termasuk mengetahui benar perilaku (karma) manusia.
          Atas dasar itu jelaslah Waisesika meyakini adanyaTuhan  secara anumana. Diyakini Tuhan adalah Maha Tahu, menjadi sumber kesadaran yang tertinggi dan waisesika meyakini bahwa Tuhan menciptakan alamini dengan jalan mengatur komposisi atom-atom yang ada.
4)   Samanya.
          Sifat umum (samanya) ialah sifat terdapat pada sekelompok atom yang sudah tentu berbeda-beda dengan sifat atom yang lain, seperti sifat kelompok atom air akan berbeda dengan kelompok atom bumi maupun dengan sifat atom mana dan sebagainya. Ciri-ciri inilah yang disebut samanya. Samanya menyebabkan adanya kelompok-kelompok  substansi yang berbeda-beda dialam ini. Namun di samping sifat umum , maka setiap benda termasuk atom-atom  memiliki sifat perorangan yang kekal, yang membedakan satu atom dengan atom yang lain.
5)   Wisesa
          Sifat perorangan (individu) ada banyak dan beraneka ragam  karena setiap benda atau orang memiliki  sifat tersendiri dan berbeda antara benda yang satu dengan yang lain. Karena setiap benda (substansi) memiliki wisesa maka wisesa ini bersifat kekal.
6)   Samawaya
          Pelekatan juga bersifat kekal dan hanya ada satu yang disebut samawaya. Pelekatan dikatakan kekal karena pelakatan itu tentu terjadi pada benda-benda yakni pelakatan antara benda (zat)  dengan kualitasnya seperti : api-panas, kapur-putih, tinta-hitam,es-dingin, dan sebagainya.
          Api, air, dan tanah terjadi dari substansi yang atomnya bersifat kekal, maka tentu kwalitasnyapun kekal termasuk hubungan yang tak terpisahkan (samawaya/pelekatan) keadaannya kekal pula. Namun sifat kelekatan itu hanyalah satu walaupun terdapat pada bermacam-macam substansi.
7)   Abhawa.
          Abhawa dikatakan kategori yang bersifat negatif kerena abhawa menyatakan ketidak-adaan, yaitu ketidak-adaan dari sesuatu. Jadi abhawapun ternyata menyebabkan terjadinya sesuatu yakni ketidak-adaan. Ketidak adaan disini bukanlah mutlak (absolut) melainkan ketidak adaan yang bersifat khusus dan berlaku pada ruang waktu tertentu dan terbatas.
          Contoh: di dalam ruangan tidak ada lemari. Jadi yang diamati dalam ruangan itu  ialah adanya abhawa khusus untuk almari itu tidaklah mutlak untuk semua waktu dan ruang. Demikian pula halnya dengan benda lain, seperti bunga itu tidak kuning, udara itu tidak berwarna
          Abhawa dibedakan atas 2 (dua) yaitu :
a)      Samsargabhawa adalah ketidak-adaan suatu benda karena memang belum pernah dibuat, seperti periuk tidak ada karena belum dibuat dari tanah liat oleh pembuatnya. Dalam hal ini termasuk pula tidak-adanya sesuatu pada suatu benda (bunga tidak berwarna kuning).
b)      Anyonyabhawa adalah ketidak adaan dari suatu benda karena rusak (hancur) seperti tidak adanya mangkok atau rumah karena sudah pecah atau habis terbakar.

DAFTAR PUSTAKA
A. G Honig Jr. 1996. Ilmu Agama. Jakarta: Badan Penerbit Kristen
Hadiwijoyo, Harun. 2010. Agama Hindu dan Budha. Jakarta: Gunung Mulia
Hadiwijono, Harun. 1985. Sari Filsafat India. Jakarta: Gunung Mulia




[1] Dr. A. G Honig Jr. Ilmu Agama . (Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1966), hal. 111.
[2] Dr. Harun Hadiwijoyo. Agama Hindu dan Budha . (Jakarta: Gunung Mulia, 2010) hal. 31.
[3] Diakses di http://iputumardika.wordpress.com/2011/03/08/astangga-yoga
[4]Dr. Harun Hadiwijono, Op.Cit., hal. 31.
[5]Ibid.
[6] Dr. Harun Hadiwijono. Sari Filsafat India, (Jakarta, Gunung Mulia. 1985).hal. 52

Tidak ada komentar:

Posting Komentar